Progres Proyek Pembangunan PLTU Jawa 9 dan 10, Kapan Target Siap Beroperasi?

by Mujahid Sahroni
Progres Proyek Pembangunan PLTU Jawa 9 dan 10, Kapan Target Siap Beroperasi?

Setelah sukses dengan PLTU 1-8, tahun 2020 pembangunan PLTU Jawa 9 dan 10 dimulai, hingga saat ini di penghujung tahun 2022 proses konstruksi belum juga selesai. Pembangunan pembangkit listrik di beberapa wilayah Indonesia adalah bagian dari proyek strategis nasional demi mencapai kepemilikan daya 35.000 megawatt, demikian dilansir validnews.id.

Sekitar 20 tahun lalu, hanya sebagian wilayah Indonesia yang mendapat pasokan listrik cukup. Terutama daerah ibukota dan kota besar saja. Daerah pedesaan dan pelosok banyak yang belum terjangkau aliran listrik. Beberapa pembangkit listrik didirikan di Pulau Jawa, sebagai pusat penduduk paling padat se-Indonesia.

Penggunaan Listrik Hemat Energi dan Polusi

Pada dasarnya pembangkit listrik di Pulau Jawa seperti PLTU Jawa 9 dan 10 tidak hanya memasok wilayah satu pulau saja. Melainkan sudah terhubung dengan jaringan listrik di Pulau Madura dan Bali. Seiring waktu, kebutuhan akan energi listrik terus bertambah seiring dengan kampanye penggunaan energi bebas emisi.

Tingkat pencemaran udara dari hasil pemakaian listrik tentu jauh lebih rendah dari polusi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor seperti motor dan mobil. Akan tetapi, untuk menghasilkan energi listrik skala besar, selama bahan bakar yang digunakan adalah batu bara maka dalam proses pembakaran tetap ada polusi yang dihasilkan.

Sampai saat ini batu bara masih menjadi sumber energi utama pembentukan uap yang dapat memutar mesin ruang pembangkit. Para ahli menyebutkan bahwa pasokan batu bara cukup sampai beberapa tahun kedepan, namun tingkat pencemaran udara beberapa tahun terakhir ini sudah cukup mengkhawatirkan.

Progres Pembangunan PLTU Jawa 9 dan 10

Beberapa berita menyebutkan bahwa  pembangunan PLTU Jawa 9 dan 10 di Suralaya, Banten sempat mendapat penolakan beberapa pihak yang mengkhawatirkan semakin tingginya tingkat polusi. Penolakan tersebut dijawab oleh para pemegang kebijakan yang menegaskan bahwa teknologi ramah lingkungan akan digunakan maksimal.

Sampai September 2021, disebutkan bahwa progress konstruksi pembangunan mencapai 35%. Proses pembangunan terus berlanjut sampai saat ini, dapat dilihat dari beberapa channel yang menayangkan rekaman kondisi terkini PLTU Suralaya.

Modal Pembangunan PLTU Jawa 9 dan 10

Sebelum dibangun PLTU 9 dan 10, di Suralaya telah berdiri dan beroperasi PLTU 1-7. Kawasan ini dianggap strategis dan memenuhi studi kelayakan untuk mendirikan pembangkit listrik skala besar. Kondisi tanah di Kawasan ini tidak produktif sebagai lahan pertanian dan tidak dihuni banyak penduduk.

Selain itu, PLTU Suralaya terletak dekat dengan garis pantai sehingga memudahkan lalu lintas pengangkutan batu bara dari pulau lain. Keberadaan laut juga penting sebagai media pendingin dan membantu menurunkan kadar sulfur oksida hasil pembakaran.

Proses pembangunan PLTU Jawa 9 dan 10 berada di lahan milik PLN dengan kepemilikan saham sebesar 51%. Sisanya 49% kepemilikan atas nama PT Barito Pacific Group, sumber lain menyebutkan pemilik sebagian saham adalah Korea Electric Power Corporation (KEPCO).

Target Pembangunan PLTU Jawa 9 dan 10 Selesai

Pembangunan PLTU 9 dan 10 masih terus berlangsung di Suralaya. Sejumlah komponen pembangkit listrik sudah mulai dikirimkan oleh PT Barata Indonesia ke lokasi. Perusahaan ini merupakan BUMN yang bergerak di bidang manufaktur dan konstruksi. Salah satu usahanya adalah pembangkitan usaha dan pengadaan mesin.

Menurut dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2021-2030 yang dirilis oleh PLN, PLTU Jawa 9 dan 10 dijadwalkan melakukan COD (Commercial Operating Date) pada tahun 2025. Sejauh ini hasil pekerjaan masih berjalan sesuai jadwal dan target yang direncanakan.

You may also like